Berita terbaru tentang LAYAKKAH 12 TOKOH MENGGANTIKAN GUS DUR. ULIL ABSOR ABDALLA PALING PAS, semoga bisa menambah wawasan anda semua.
Ada 12 orang yang dinilai bisa sebagai pengganti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai tokoh pluralisme, pejuang demokrasi, tokoh agama, dan budaya.
TUJUH di antaranya berasal Nahdlatul Ulama (NU), dan lima berÂasal dari luar NU (lengkapnya baca tabel).
Nama-nama itu berdasarkan pendapat sejumlah pengamat politik, pengamat sejarah, dan anggota DPR, yang disampaikan kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Sebelumnya Khatib Majelis PengÂasuh Pondok Pesantren BahÂrul Ulum, Tambakberas, JomÂbang, KH M Irfan Sholeh (Gus Irfan) mengatakan, penerus Gus Dur akan muncul.
âSeperti Salahudin Al-Ayubi seusai menaklukkan Jerusalem. Sudah (terbuka) tinggal menerusÂkan. Seperti Hadratussyekh KH HaÂsyim Asyâari muncul setelah (PaÂngeÂran) Diponegoro,â ungkap Gus Irfan.
Guru Besar Ilmu Politik UniÂversitas Indonesia (UI) IbramÂsyah mengatakan, Gus Dur meruÂpakan orang yang komplit, seÂorang pemikir, ahli agama, poÂlitikus, budaya, dan lainnya.
âSulit untuk menempatkan orang yang selevel dengan Gus Dur,â katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, pluralisme bukan merupakan barang aneh. Karena dalam Islam sendiri tidak mengenal pengelompokan-peÂngeÂlompokan. Dalam Islam di keÂnal toleransi beragama dan mengÂhormati perÂbeÂdaan. Apa yang dijalankan Gus Dur menÂconÂtoh yang dilakukan Rasul.
Sebagai contoh, Gus Dur melindungi karangan minoritas dan memperjuangkan hak-hakÂnya. âJadi kalau gelarnya pluÂraÂlisme itu bukan hal aneh. HaÂrusnya beliau diberi gelar yang lain,â katanya
Dikatakan dia yang mempunyai sikap yang sama dengan Gus Dur, yaitu Azyumardi Azra, Din SyamÂÂsuddin, Mahfud MD dan KomaÂruddin HiÂÂdayat. â Mereka selalu mengeÂdeÂpankan nilai-nilai uniÂversal dan kerukunan,â katanya.
Sementara peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI), BurÂhaÂnudÂdin Muhtadi mengatakan, InÂdoÂnesia tidak mempunyai stok toÂkoh mulÂti talenta dan multi diÂmensi unÂtuk menggantikan sosok Gus Dur.
Menurutnya, selain sosok diterima semua golongan, Gus Dur juga mempunyai kelebihan lain, yaitu mazhab kiainya. SeÂbab, keturunan dari tokoh Islam. Kakeknya pendiri NU dan ayahnya bekas Menteri Agama.
Namun, lanjutnya, jika dilihat dari latar belakang intelektual, agama, politisi dan pluraÂlismeÂnya, tentu banyak penggantinya.
Misalnya, dari sisi pluralisme ada Ulil Abshar Abdalla. Tapi biarpun Ulil menantu Mustafa Bisri salah satu kiai yang dihorÂmati, naÂmun dia bukanlah sosok khaÂrismatik.
Dikatakan, tokoh yang memÂpuÂnyai kesamaan dengan Gus Dur adalah Jusuf Kalla yang dikeÂnal sebagai orang yang konÂsen dalam menjalankan pluÂralisme.
Selain itu, lanjutnya, Anis BasÂwedan dan Komaruddin Hidayat dinilai layak sebagai penerus Gus Dur. Mereka terus mengemÂbangÂkan pluralisme. âTapi perlu diakui memang tidak ada tokoh yang bisa mengÂgantikan Gus Dur secara utuh,â tandasnya.
Sedangkan pengamat politik dari Charta Politika Indonesia (CPI), Andi Syafrani mengataÂkan, Ulil Abshar Abdalla yang paÂÂÂÂling menÂdekati untuk mengÂganÂÂÂtikan tokoh pluralisme seÂkaliber Gus Dur.
âDari sisi tradisi keilmuan, Ulil sangat komplit dengan khazaÂnah Islam. Ia juga fasih dalam bahasa Arab dan Inggris. Selesaikan pendidikan S2 dan S3 di Amerika. Jadi tradisi barat dan timur sangat tepat menjadi simbol pluralisme,â ungkapnya.
ââTidak Bisa Dibandingkanââ
Marwan Jaâfar, Ketua Fraksi PKB DPR
Ketua Fraksi PKB DPR MarÂwan Jaâfar mengatakan, setiap tokoh tidak bisa dibanding-banÂdingkan. Sebab, tergantung maÂsanya, moÂmentum, dan karakÂternya.
âMisalnya Gus Dur moÂmenÂtumnya pada saat pergantian Orde Baru ke era reformasi. SeÂtiap tokoh juga mempunyai plus minusnya, jadi tidak bisa diÂbandingkan,â katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Marwan yakin, ke depan akan ada pengganti Gus Dur sesuai dengan momentumnya. Namun. yang perlu dipahami adalah dari sisi konteks nilai bukan tekÂstualnya.
âSebagai anak ideologisnya Gus Dur tentu kami menjalankan apa yang sudah dirintis Gus Dur, misalnya soal mempertahankan pluralisme di negeri ini,â katanya.
Sementara Wasekjen PKB, Daniel Johan mengatakan, peÂwaris Gus Dur dalam menÂjalankan ajaran dan semangatnya tentu kader-kader PKB.
âPewaris Gus Dur di PKB adalah kita semua. Karena MuÂhaiÂmin Iskandar adalah Ketua Umum PKB, maka kita akan support full. PKB juga akan tetap meÂneruskan ajaran dan pemiÂkiran-pemikiran Gus Dur,â katanya.
âTergantung Sepak Terjang Merekaââ
Alfan Alfian, Pengamat Politik
Masdar F Masâudi dan Ulil Abshar Abdalla calon pengganti Gus Dur menjadi Pengurus Besar NahÂdlatul Ulama (PBNU).
Demikian disampaikan pengÂamat politik dari Universitas NaÂsional (Unas), Alfan Alfian, keÂpada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
âNama-nama itu bisa sebagai pengganti Gus Dur, tapi itu semua terÂgantung sepak terjang meÂreka,â ujarnya.
Menurutnya, untuk tokoh di bidang lain, belum terlihat ada kader yang bagus. Namun untuk tokoh sepuh yang bisa menjalanÂkan semangat Gus Dur adalah Kiai Mustofa Bisri.
âKalau dilihat paling sepuh ya Kiai Mustofa Bisri karena sudah malang melintang di PBNU,â tuturnya.
Dikatakan, generasi muda susah meniru karakter dan seÂmangat Gus Dur. Karena dalam trah, dalam hal humor, dan keÂaneÂhan tidak dimiliki generasi muda.
âDarah biru Gus Dur kan sangat kuat sekali. Kemudian memiliki integritas dalam berkoÂmuÂnikasi yang ringan dan baik deÂngan kalangan minoritas. Selain itu menyukai humor dan cerdas,â paparnya.
Menurut Direktur The Akbar Tandjung Institute itu, untuk menggantikan secara persis dengan Gus Dur tidak ada lagi. Akan tetapi dia optimis ajaran pluÂralisme sudah merasuk seÂdemikian rupa ke berbagai kaÂlangan, sehingga visinya akan tetap dilanjutkan sampai di luar PBNU.
ââYang Mirip Memang Adaââ
Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Rektor UIN Syarif HidayaÂtullah Jakarta, Komaruddin HiÂdayat mengatakan, banyak kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang menÂdukung gagasan pluralisme dan kebangsaan yang diperÂjuangÂkan Gus Dur.
Persoalannya, kata dia, waÂlaupun para kiai itu bergaul deÂkat dengan Gus Dur. Tapi kalau tidak ada upaya sistematis unÂtuk menjaga dan mewariskan pada dunia pesantren, KoÂmaÂrudÂdin khawatir semangat ini suatu saat akan mengendor dan berimplikasi lain.
âBanyak kiai dan orang luar yang berpandangan inklusif dan pluralis. Hanya saja persoalanÂnya, tidak ada sevokal Gus Dur,â katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Perbedaan lainnya, kata dia, Gus Dur melakukan kontekÂstuaÂliasi teologis ke ranah poÂlitik dan budaya, sehingga dampaknya sangat terasa.
Sedangkan para kiai cukup untuk dirinya dan disampaikan dalam lingkaran terbatas. PaÂdahal, kiai-kiai itu sebagian saÂngat liberal kalau saja digali ilmu dan pandangannya.
Komaruddin yang dipandang punya visi sama dengan Gus Dur ini, menyatakan, ada beÂberapa orang yang mirip deÂngan Gus Dur, yakni Gus Mus (MusÂtofa Bisri), Said Agil Siraj, dan Salahudin Wahid. âYang mirip memang ada, tapi yang saÂma belum ada. KeleÂbiÂhan Gus Dur adalah mengÂungÂkapÂkan pesan Islam dengan mengÂgunakan analisis dan jargon ilmu sosial,â katanya
Sedangkan generasi yang lebih muda, kata dia, ada MasÂdar Masâudi dan Ulil Abshar Abdalla.
Ketika ditanya bahwa KoÂmaruddin orang yang identik meÂwarisi pluralisme Gus Dur, KoÂmaruddin mengatakan, harus dibedakan antara pluÂralisÂme budaya dan pluralisme agaÂma. Jika pluralisme agama diÂpahami bahwa semua agama adalah sama, tidak ada keÂuniÂkan dan masing-masing tak ada keotentikan, maka dirinya bukan seorang pluralis.
ââNamun, jika pluralisme berarti kita mesti menghargai, menerima dan menjaga keragaÂman umat yang berbeda keÂyaÂkinan berdasarkan etika Islam, maka saya setuju,ââ ujarnya.
âYang kita inginkan adalah masing-masing pemeluknya memberikan kontribusi yg terÂbaik bagi Indonesia dan keÂmanusiaan,â tambahnya.
ââSaya Khawatir...ââ
Sultan Hamengku Buwono X, Tokoh Reformasi
Sultan Hamengku Buwono X yang dikenal sebagai salah satu tokoh reformasi nasional meÂngaku khawatir pluralisme di Indonesia akan terancam pasÂcameninggalnya Gus Dur.
Alasannya, melihat perilaku elite politik yang cenderung meÂngutamakan pendekatan ekoÂnomi ketimbang mengÂguÂnakan pendekatan kebudayaan dan mengutamakan peradaban.
âYa, saya khawatir, padahal meÂnggunakan kebudayaan dan meÂngutamakan peradaban lebih penÂting daripada sekadar memÂbuat orang sejahtera,â kata Sultan.
Elite politik, kata Sultan, juga cenderung menggunakan penÂdeÂkatan politik semata, bukan memÂbangun masa depan IndoÂnesia, yang memiÂliki daya saing dan mengÂutaÂmakan moÂralitas.
Di mata Sultan, Gus Dur adalah sosok idealis, bukan haÂnya demokrasi saja, namun juga penjaga pluralisme di IndoÂnesia. Maka tak mengherankan hingga saat ini belum ada satupun tokoh yang muncul meÂnggantikan posisi Gus Dur.
âKita kehilangan orang besar yang selama ini mengÂidealisasikan tidak hanya deÂmokrasi tetapi juga pluralisme,â kata Sultan.
"Harus Berada Di Hati Kitaââ
Adhie Massardi, Bekas Jubir Gus Dur
ââBelum ada tokoh yang bisa menggantikan Gus Dur dalam sikap berdemokrasi dan pluraÂlismenya,ââ ujar bekas Juru BiÂcara (Jubir) Gus Dur saat menÂjadi Presiden, Adhie Massardi, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Hal yang sama, lanjutnya, terjadi di India. Biarpun banyak tokoh di sana sampai sekarang belum ada yang bisa mengÂganÂtikan sosok Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru. Begitu juÂga di Indonesia, belum ada yang bisa menggantikan ketoÂkoÂhan Soekarno.
âJika berdasarkan ketokohan dan kemampuan Gus Dur seÂcara menyeluruh, belum ada yang bisa menggantikannya,â katanya.
Namun, kata Adhie, jika sosok dan ketokohan serta jasa Gus Dur dipecah-pecah baru bisa. Misalnya, dari sosok keuÂlamaannya dan pemersatu umat, ada sosok KH Hasyim Muzadi yang dapat mengÂganÂtikannya.
âTapi dari segi demokrasi dan pluralisme Gus Dur sampai sekaÂrang belum ada yang bisa mengÂgantikannya,â paparnya.
Dikatakan, kelebihan dari Gus Dur adalah keberaniannya memÂbela kaum minoritas. SeÂkarang siapa yang berani meÂlakukan itu. âKe depan Gus Dur harus berÂada di hati kita. Sebab, tidak ada yang bisa mengÂgantiÂkannya,â tandasnya.
ââSulit Cari Penggantinyaââ
JJ Rizal, Pengamat Sejarah
Tokoh sekaliber Gus Dur hanya dilahirkan satu abad sekali. Jadi sulit untuk mencari pengÂgantinya.
Demikian disampaikan pengÂamat sejarah dari Komunitas BamÂbu, JJ Rizal, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
ââSaya kira sulit cari pengÂganÂtinya. Tidak ada yang sehebat Gus Dur,ââ ujarnya.
Menurutnya, tidak ada sosok yang bisa menggantikan Gus Dur seÂbagai bapak pluralisme. Sebab, tokoh seperti ini hanya hidup sekali saja. âBuktinya sampai sekaÂrang juga tidak ada yang bisa menggantikan sosok Soekarno,â katanya.
Rizal mengatakan, sekarang bukan saatnya kita mendebatkan siapa pengganti Gus Dur. Tapi yang harus dilakukan adalah bagaimana menjaga dan menjaÂlanÂkan wariÂsanÂnya agar tetap hidup.
Dikatakan, Gus Dur meruÂpaÂkan sosok yang demokrasi dan berhasil merubah Istana Negara menjadi istana rakyat.
âSekarang yang harus dilakuÂkan adalah bagaimana kita menÂjaga warisan pluralisme dan anti dikriminasi serta pemikiran-peÂmiÂkiran Gus Dur,â tandasnya.
TUJUH di antaranya berasal Nahdlatul Ulama (NU), dan lima berÂasal dari luar NU (lengkapnya baca tabel).
Nama-nama itu berdasarkan pendapat sejumlah pengamat politik, pengamat sejarah, dan anggota DPR, yang disampaikan kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Sebelumnya Khatib Majelis PengÂasuh Pondok Pesantren BahÂrul Ulum, Tambakberas, JomÂbang, KH M Irfan Sholeh (Gus Irfan) mengatakan, penerus Gus Dur akan muncul.
âSeperti Salahudin Al-Ayubi seusai menaklukkan Jerusalem. Sudah (terbuka) tinggal menerusÂkan. Seperti Hadratussyekh KH HaÂsyim Asyâari muncul setelah (PaÂngeÂran) Diponegoro,â ungkap Gus Irfan.
Guru Besar Ilmu Politik UniÂversitas Indonesia (UI) IbramÂsyah mengatakan, Gus Dur meruÂpakan orang yang komplit, seÂorang pemikir, ahli agama, poÂlitikus, budaya, dan lainnya.
âSulit untuk menempatkan orang yang selevel dengan Gus Dur,â katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, pluralisme bukan merupakan barang aneh. Karena dalam Islam sendiri tidak mengenal pengelompokan-peÂngeÂlompokan. Dalam Islam di keÂnal toleransi beragama dan mengÂhormati perÂbeÂdaan. Apa yang dijalankan Gus Dur menÂconÂtoh yang dilakukan Rasul.
Sebagai contoh, Gus Dur melindungi karangan minoritas dan memperjuangkan hak-hakÂnya. âJadi kalau gelarnya pluÂraÂlisme itu bukan hal aneh. HaÂrusnya beliau diberi gelar yang lain,â katanya
Dikatakan dia yang mempunyai sikap yang sama dengan Gus Dur, yaitu Azyumardi Azra, Din SyamÂÂsuddin, Mahfud MD dan KomaÂruddin HiÂÂdayat. â Mereka selalu mengeÂdeÂpankan nilai-nilai uniÂversal dan kerukunan,â katanya.
Sementara peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI), BurÂhaÂnudÂdin Muhtadi mengatakan, InÂdoÂnesia tidak mempunyai stok toÂkoh mulÂti talenta dan multi diÂmensi unÂtuk menggantikan sosok Gus Dur.
Menurutnya, selain sosok diterima semua golongan, Gus Dur juga mempunyai kelebihan lain, yaitu mazhab kiainya. SeÂbab, keturunan dari tokoh Islam. Kakeknya pendiri NU dan ayahnya bekas Menteri Agama.
Namun, lanjutnya, jika dilihat dari latar belakang intelektual, agama, politisi dan pluraÂlismeÂnya, tentu banyak penggantinya.
Misalnya, dari sisi pluralisme ada Ulil Abshar Abdalla. Tapi biarpun Ulil menantu Mustafa Bisri salah satu kiai yang dihorÂmati, naÂmun dia bukanlah sosok khaÂrismatik.
Dikatakan, tokoh yang memÂpuÂnyai kesamaan dengan Gus Dur adalah Jusuf Kalla yang dikeÂnal sebagai orang yang konÂsen dalam menjalankan pluÂralisme.
Selain itu, lanjutnya, Anis BasÂwedan dan Komaruddin Hidayat dinilai layak sebagai penerus Gus Dur. Mereka terus mengemÂbangÂkan pluralisme. âTapi perlu diakui memang tidak ada tokoh yang bisa mengÂgantikan Gus Dur secara utuh,â tandasnya.
Sedangkan pengamat politik dari Charta Politika Indonesia (CPI), Andi Syafrani mengataÂkan, Ulil Abshar Abdalla yang paÂÂÂÂling menÂdekati untuk mengÂganÂÂÂtikan tokoh pluralisme seÂkaliber Gus Dur.
âDari sisi tradisi keilmuan, Ulil sangat komplit dengan khazaÂnah Islam. Ia juga fasih dalam bahasa Arab dan Inggris. Selesaikan pendidikan S2 dan S3 di Amerika. Jadi tradisi barat dan timur sangat tepat menjadi simbol pluralisme,â ungkapnya.
ââTidak Bisa Dibandingkanââ
Marwan Jaâfar, Ketua Fraksi PKB DPR
Ketua Fraksi PKB DPR MarÂwan Jaâfar mengatakan, setiap tokoh tidak bisa dibanding-banÂdingkan. Sebab, tergantung maÂsanya, moÂmentum, dan karakÂternya.
âMisalnya Gus Dur moÂmenÂtumnya pada saat pergantian Orde Baru ke era reformasi. SeÂtiap tokoh juga mempunyai plus minusnya, jadi tidak bisa diÂbandingkan,â katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Marwan yakin, ke depan akan ada pengganti Gus Dur sesuai dengan momentumnya. Namun. yang perlu dipahami adalah dari sisi konteks nilai bukan tekÂstualnya.
âSebagai anak ideologisnya Gus Dur tentu kami menjalankan apa yang sudah dirintis Gus Dur, misalnya soal mempertahankan pluralisme di negeri ini,â katanya.
Sementara Wasekjen PKB, Daniel Johan mengatakan, peÂwaris Gus Dur dalam menÂjalankan ajaran dan semangatnya tentu kader-kader PKB.
âPewaris Gus Dur di PKB adalah kita semua. Karena MuÂhaiÂmin Iskandar adalah Ketua Umum PKB, maka kita akan support full. PKB juga akan tetap meÂneruskan ajaran dan pemiÂkiran-pemikiran Gus Dur,â katanya.
âTergantung Sepak Terjang Merekaââ
Alfan Alfian, Pengamat Politik
Masdar F Masâudi dan Ulil Abshar Abdalla calon pengganti Gus Dur menjadi Pengurus Besar NahÂdlatul Ulama (PBNU).
Demikian disampaikan pengÂamat politik dari Universitas NaÂsional (Unas), Alfan Alfian, keÂpada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
âNama-nama itu bisa sebagai pengganti Gus Dur, tapi itu semua terÂgantung sepak terjang meÂreka,â ujarnya.
Menurutnya, untuk tokoh di bidang lain, belum terlihat ada kader yang bagus. Namun untuk tokoh sepuh yang bisa menjalanÂkan semangat Gus Dur adalah Kiai Mustofa Bisri.
âKalau dilihat paling sepuh ya Kiai Mustofa Bisri karena sudah malang melintang di PBNU,â tuturnya.
Dikatakan, generasi muda susah meniru karakter dan seÂmangat Gus Dur. Karena dalam trah, dalam hal humor, dan keÂaneÂhan tidak dimiliki generasi muda.
âDarah biru Gus Dur kan sangat kuat sekali. Kemudian memiliki integritas dalam berkoÂmuÂnikasi yang ringan dan baik deÂngan kalangan minoritas. Selain itu menyukai humor dan cerdas,â paparnya.
Menurut Direktur The Akbar Tandjung Institute itu, untuk menggantikan secara persis dengan Gus Dur tidak ada lagi. Akan tetapi dia optimis ajaran pluÂralisme sudah merasuk seÂdemikian rupa ke berbagai kaÂlangan, sehingga visinya akan tetap dilanjutkan sampai di luar PBNU.
ââYang Mirip Memang Adaââ
Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Rektor UIN Syarif HidayaÂtullah Jakarta, Komaruddin HiÂdayat mengatakan, banyak kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang menÂdukung gagasan pluralisme dan kebangsaan yang diperÂjuangÂkan Gus Dur.
Persoalannya, kata dia, waÂlaupun para kiai itu bergaul deÂkat dengan Gus Dur. Tapi kalau tidak ada upaya sistematis unÂtuk menjaga dan mewariskan pada dunia pesantren, KoÂmaÂrudÂdin khawatir semangat ini suatu saat akan mengendor dan berimplikasi lain.
âBanyak kiai dan orang luar yang berpandangan inklusif dan pluralis. Hanya saja persoalanÂnya, tidak ada sevokal Gus Dur,â katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Perbedaan lainnya, kata dia, Gus Dur melakukan kontekÂstuaÂliasi teologis ke ranah poÂlitik dan budaya, sehingga dampaknya sangat terasa.
Sedangkan para kiai cukup untuk dirinya dan disampaikan dalam lingkaran terbatas. PaÂdahal, kiai-kiai itu sebagian saÂngat liberal kalau saja digali ilmu dan pandangannya.
Komaruddin yang dipandang punya visi sama dengan Gus Dur ini, menyatakan, ada beÂberapa orang yang mirip deÂngan Gus Dur, yakni Gus Mus (MusÂtofa Bisri), Said Agil Siraj, dan Salahudin Wahid. âYang mirip memang ada, tapi yang saÂma belum ada. KeleÂbiÂhan Gus Dur adalah mengÂungÂkapÂkan pesan Islam dengan mengÂgunakan analisis dan jargon ilmu sosial,â katanya
Sedangkan generasi yang lebih muda, kata dia, ada MasÂdar Masâudi dan Ulil Abshar Abdalla.
Ketika ditanya bahwa KoÂmaruddin orang yang identik meÂwarisi pluralisme Gus Dur, KoÂmaruddin mengatakan, harus dibedakan antara pluÂralisÂme budaya dan pluralisme agaÂma. Jika pluralisme agama diÂpahami bahwa semua agama adalah sama, tidak ada keÂuniÂkan dan masing-masing tak ada keotentikan, maka dirinya bukan seorang pluralis.
ââNamun, jika pluralisme berarti kita mesti menghargai, menerima dan menjaga keragaÂman umat yang berbeda keÂyaÂkinan berdasarkan etika Islam, maka saya setuju,ââ ujarnya.
âYang kita inginkan adalah masing-masing pemeluknya memberikan kontribusi yg terÂbaik bagi Indonesia dan keÂmanusiaan,â tambahnya.
ââSaya Khawatir...ââ
Sultan Hamengku Buwono X, Tokoh Reformasi
Sultan Hamengku Buwono X yang dikenal sebagai salah satu tokoh reformasi nasional meÂngaku khawatir pluralisme di Indonesia akan terancam pasÂcameninggalnya Gus Dur.
Alasannya, melihat perilaku elite politik yang cenderung meÂngutamakan pendekatan ekoÂnomi ketimbang mengÂguÂnakan pendekatan kebudayaan dan mengutamakan peradaban.
âYa, saya khawatir, padahal meÂnggunakan kebudayaan dan meÂngutamakan peradaban lebih penÂting daripada sekadar memÂbuat orang sejahtera,â kata Sultan.
Elite politik, kata Sultan, juga cenderung menggunakan penÂdeÂkatan politik semata, bukan memÂbangun masa depan IndoÂnesia, yang memiÂliki daya saing dan mengÂutaÂmakan moÂralitas.
Di mata Sultan, Gus Dur adalah sosok idealis, bukan haÂnya demokrasi saja, namun juga penjaga pluralisme di IndoÂnesia. Maka tak mengherankan hingga saat ini belum ada satupun tokoh yang muncul meÂnggantikan posisi Gus Dur.
âKita kehilangan orang besar yang selama ini mengÂidealisasikan tidak hanya deÂmokrasi tetapi juga pluralisme,â kata Sultan.
"Harus Berada Di Hati Kitaââ
Adhie Massardi, Bekas Jubir Gus Dur
ââBelum ada tokoh yang bisa menggantikan Gus Dur dalam sikap berdemokrasi dan pluraÂlismenya,ââ ujar bekas Juru BiÂcara (Jubir) Gus Dur saat menÂjadi Presiden, Adhie Massardi, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Hal yang sama, lanjutnya, terjadi di India. Biarpun banyak tokoh di sana sampai sekarang belum ada yang bisa mengÂganÂtikan sosok Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru. Begitu juÂga di Indonesia, belum ada yang bisa menggantikan ketoÂkoÂhan Soekarno.
âJika berdasarkan ketokohan dan kemampuan Gus Dur seÂcara menyeluruh, belum ada yang bisa menggantikannya,â katanya.
Namun, kata Adhie, jika sosok dan ketokohan serta jasa Gus Dur dipecah-pecah baru bisa. Misalnya, dari sosok keuÂlamaannya dan pemersatu umat, ada sosok KH Hasyim Muzadi yang dapat mengÂganÂtikannya.
âTapi dari segi demokrasi dan pluralisme Gus Dur sampai sekaÂrang belum ada yang bisa mengÂgantikannya,â paparnya.
Dikatakan, kelebihan dari Gus Dur adalah keberaniannya memÂbela kaum minoritas. SeÂkarang siapa yang berani meÂlakukan itu. âKe depan Gus Dur harus berÂada di hati kita. Sebab, tidak ada yang bisa mengÂgantiÂkannya,â tandasnya.
ââSulit Cari Penggantinyaââ
JJ Rizal, Pengamat Sejarah
Tokoh sekaliber Gus Dur hanya dilahirkan satu abad sekali. Jadi sulit untuk mencari pengÂgantinya.
Demikian disampaikan pengÂamat sejarah dari Komunitas BamÂbu, JJ Rizal, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
ââSaya kira sulit cari pengÂganÂtinya. Tidak ada yang sehebat Gus Dur,ââ ujarnya.
Menurutnya, tidak ada sosok yang bisa menggantikan Gus Dur seÂbagai bapak pluralisme. Sebab, tokoh seperti ini hanya hidup sekali saja. âBuktinya sampai sekaÂrang juga tidak ada yang bisa menggantikan sosok Soekarno,â katanya.
Rizal mengatakan, sekarang bukan saatnya kita mendebatkan siapa pengganti Gus Dur. Tapi yang harus dilakukan adalah bagaimana menjaga dan menjaÂlanÂkan wariÂsanÂnya agar tetap hidup.
Dikatakan, Gus Dur meruÂpaÂkan sosok yang demokrasi dan berhasil merubah Istana Negara menjadi istana rakyat.
âSekarang yang harus dilakuÂkan adalah bagaimana kita menÂjaga warisan pluralisme dan anti dikriminasi serta pemikiran-peÂmiÂkiran Gus Dur,â tandasnya.


Posting Komentar